Mungkinkah Sebuah Ilmu Pengetahuan Bersifat Subjektif

Mungkinkah Sebuah Ilmu Pengetahuan Bersifat Subjektif
Mungkinkah Sebuah Ilmu Pengetahuan Bersifat Subjektif: Pengertian ilmu pengetahuan. Ilmu adalah pengetahuan yang secara apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (axiology) mempunyai karakter tersendiri. Pengetahuan yang dimiliki manusia ternyata beragam dan manis, atau kalau naik kendaraan itu lebih cepat daripada berjalan kaki. Pengetahuan semacam ini disebut pengetahuan dasar atau pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari tanpa dituntut untuk mengetahui seluk beluknya secara mendalam.

Selain pengetahuan dasar, manusia juga memiliki pengetahuan tentang suatu objek secara luas dan mendalam, pengetahuan ini yang disebut pengetahuan ilmiah. Untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah, objek perlu diselidiki dengan langkah-langkah sistematis yang dikenal sebagai metode ilmiah.

Rasa keingintahuan manusia yang tinggi akan membawa manusia itu mencari tahu rasa keingintahuannya dengan cara mencari keterangan di buku-buku literatur dan mengungkapkan, maka manusia akan memperoleh pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah sering disebut sebagai ilmu. Ilmu membantu masyarakat untuk memahami masalah yang dihadapi dan mencari pemecahannya secara lebih objektir.

Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan pemikiran, serta selalu dapat diperiksa dan ditelaah (dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Perumusan tersebut masih sangat jauh dari kesempurnaan, namun yang terpenting adalah perumusan tersebut mencakup beberapa unsur pokok yang tergabung dalam sebuah kebulatan. Unsur-unsur pokok tersebut, yaitu pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan pemikiran, dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang yang menggunakan pemikiran, dan dapat dikontrol secara sistematis oleh orang lain atau umum.

1. Sifat Ilmu Pengetahuan

Kehidupan yang ada di masyarakat sangat menarik untuk kita amati. Ketika kita mengamati perilaku manusia maka akan muncul berbagai pertanyaan yang mendorong kita untuk melihat lebih jauh objek yang kita amati. Misalnya, saat kita melihat beberapa petani di sawah. Apa pertanyaan yang tetlintas di benak kita? Mungkin akan bertanya, Siapa mereka itu? Pertanyaan baru lagi akan muncul. Bagaimana caranya mereka menanam padi? Kapankah waktunya panen? Apakah mereka mempunyai anak-anak? Bisakah mereka menyekolahkan anak-anaknya dengan hasil dari bertani? Inilah suatu bukti bahwa ternyata banyak sekali hal yang ingin kita ketahui. Dengan mencari jawaban dari pertanyaan tersebut maka pengetahuan kita akan bertambah. Lantas, apakah yang mendorong keinginan untuk bertanya tentang kehidupan masyarakat tadi.

Secara lebih rinci dapat dikatakan unsur-unsur sebuah ilmu pengetahuan adalah:

a. Pengetahuan (knowladge).
b. Tersusun secara sistematis.
c. Menggunakan pemikiran.
d. Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum (objektif)

Selama manusia memelihara keingintahuannya maka manusia akan terus berkembang, tetapi tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu. Ada beberapa kriteria yang mesti dipenuhi supaya pengetahuan itu layak di kategorikan ilmu.

Sifat Ilmu Pengetahuan:

  • Rasional, ilmu pengetahuan didasarkan atas kegiatan berfikir secara logis dengan menggunakan rasio (nalar) dan hasilnya dapat diterima.
  • Objektif, Kebenaran yang dihasilkan ilmu itu merupakan kebenaran tentang pengetahuan yang jujur, apa adanya sesuai dengan kenyataan objek dan metode ilmu tersebut dapat dipelajari dan diikuti secara umum, kebenaran itu dapat diselidiki dan dibenarkan oleh ahlinya dalam bidang tersebut.
  • Empiris, Kesimpulan yang diambil harus dapat dibuktikan melalui pemeriksaan dan pembuktian panca indra, serta dapat diuji kebenarannya dengan fakta. Hal ini yang membedakan antara ilmu pengetahuan dengan agama.
  • Sifat ilmu, Ilmu dibentuk dengan dasar teori lama yang disempurnakan, ditambah, dan diperbaiki sehingga semakin sempurna. Ilmu yang dikenal sekarang merupakan kelanjutan dari ilmu yang dikembangkan sebelumnya.

2. Kelompok Ilmu Pengetahuan

Pada umumnya, ilmu pengetahuan dapat ditelaah oleh umum, karena ilmu pengetahuan selalu berkembang. Kalau ilmu pengetahuan yang netral itu sudah dapat diterima oleh umum maka ilmu pengetahuan tadi harus ditunjukan pada suatu sasaran tertentu, misalnya masyarakat, manusia, gejala-gejala alam, perwujudan-perwujudan kegiatan rohaniah dan seterusnya.

Oleh sebab itu, karena perbedaan penelitian dan lapangan kerja maka ilmu pengetahuan secara umum dipisah-pisahkan ke dalam kelompok-kelompok. Secara umum dan konvensional dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan, yaitu:
A. Ilmu matematika.
B. Ilmu pengetahuan alam, yaitu ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam, baik yang hayati (life sciences) maupun tidak hayati (fisika).
C. Ilmu tentang perilaku (behavioral sciences), yang disatu pihak menyoroti perilaku hewan (animal behavior)

- Ilmu pengetahuan kerohanian, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.

Keempat kelompok ilmu pengetahuan tersebut mempelajari ilmu pengetahuan didasarkan pada objeknya. Dari sudut sifatnya, ilmu pengetahuan dibedakan antara ilmu pengetahuan yang eksak dengan ilmu pengetahuan yang noneksak. Pada umumnya, ilmu pengetahuan sosial yang bersifat noneksak, walaupun ekonomi, sering menggunakan rumusan-rumusan ilmu pasti, demikian juga psikologi maupun sosiologi (sosiometri). Kelompok ilmu-ilmu pengetahuan alam pada umumnya bersifat eksak, sedangkan sebaliknya yaitu ilmu pengetahuan kerohanian boleh dikatakan noneksak.

Dari sudut penerapannya ilmu pengetahuan dibedakan menjadi ilmu pengetahuan murni (pure sciences) dengan ilmu pengetahuan yang ditetapkan (applied sciences). Ilmu pengetahuan murni biasanya bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak, yaitu untuk mempertinggi mutunya. Ilmu pengetahuan yang ditetapkan bertujuan untuk mempergunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut di dalam masyarakat dengan maksud untu membantu masyarakat di dalam masalah-masalahnya yang dihadapinya. Selain dari itu, ilmu pengetahuan dapat pula dibedakan antara ilmu-ilmu yang teoritis rasional, teoritis empiris, dan empiris praktif. Pada ilmu yang teoritis rasional (misalnya dogmatik hukum) maka cara berpikir yang dominan adalah deduktif dengan menggunakan silogisme. Cara berpikir deduktif, induktif, atau induktif deduktif banyak digunakan di dalam ilmu-ilmu teoritis empiris, seperti sosiologi. Di dalam ilmu-ilmu yang empiris praktis, misalnya pekerjaan sosial atau kesejahteraan sosial, lebih banyak digunakan cara berpikir induktif.

3. Tujuan Ilmu Pengetahuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui prosedur dan kaidah-kaidah ilmiah. Paling tidak sedikitnya ada lima kaidah utama yang harus diikuti, yaitu menjungjung tinggi objektifitas ( universalisme), terbuka terhadap pendat dan gagasan baru (skeptisisme terorganisasi), tanpa kepentingan pribadi (pasang jarak) membagi penemuan kepada publik (komunalisme), dan menjunjung tinggi kejujuran/pantang tidak jujur. (Newman, 2000).

Pada masa lalu, keberadaan ilmu semata-mata dimaksudkan untuk makin mengembangkan ilmu. Jadi, ilmu untuk ilmu, ilmu sama sekali tidak terkait dengan upaya memajukan masyarakat. Hal itu karena adanya pandangan bahwa taraf hidup masyarakat sudah ditentukan oleh alam kodrat maka ilmu hanya berupaya memahami manusia dan alam (Melsen, 1985), tetapi kini pandangan terhadap ilmu telah mengalami banyak perubahan yang sangat mendasar. Ilmu tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan ilmu, tetapi ilmu juga bertujuan untuk mengembangkan mutu kehidupan masyarakt dalam berbagai aspek.

Ilmu memiliki dua tujuan sekaligus, yaitu memajukan ilmu dan memajukan masyarakat. Pertama, ilmu berusaha memahami alam dan manusia secara ilmiah. Selanjutnya, pemahaman ilmiah tersebut dimanfaatkan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Pergeseran tujuan itu menyebabkan tumbuhnya dua macam ilmu, yaitu ilmu teoritis dan ilmu praktis (Melsen, 1985). Ilmu teoritis sering disebut pula ilmu dasar (basic sciences) atau ilmu murni (pure sciences) dan bertujuan pada upaya pengembangan teori, sedangkan ilmu praktis disebut ilmu terapan (applied sciences) dan lebih berfokus pada upaya penggunaan teori untuk memecahkan masalah-masalah masyarakat. 

Hal seperti itu terjadi dalam berbagai cabang ilmu, tak terkecuali ilmu sosiologi. Kini ilmu sosiologi bisa dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosiologi yang bertujuan untuk mengembangkan teori-teori sosiologi (sociological theory) atau bisa disebut sosiologi dasar dan sosiologi yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan, atau yang disebut sosiologi terapan (applied sosiology). Secara sederhana, perbedaan antara sosiologi dasar dan sosiologi terapan terletak pada fokus, status teori sosiologi, dan metode kerja.

4. Mengenal Sosiologi Terapan

Istilah sosiologi terapan merupakan terjemahan dari beberapa istilah yang berbeda-beda dalam bahasa inggris. Setidaknya ada tiga istilah yang biasa digunakan untuk menunjuk pada sosiologi terapan. ketiga istilah itu meliputi sociological practive, clinical sociology, dan applied sociology.
Penggunaan ketiga istilah itu mengindikasikan bahwa sosiologi terapan merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Oleh karena itu, belum ada kesepakatan mengenai istilah mana yang tepat untuk digunakan. Penggunaan istilah applied sociology umumnya lebih disarankan. Alasannya sederhana karena sosiologi terapan pada dasarnya merupakan upaya penerapan.

Apa itu sosiologi terapan? Ada banyak definisi mengenai hal itu, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
A. Sosiologi terapan adalah pemanfaatan ilmu sosiologi dengan tujuan khusus pada penerapannya secara praktis terhadap perilaku manusia dan organisasi (Palmer dan Lamm, 1998).
B. Sosiologi terapan adalah setiap pemanfaatan perspektif sosiologi dan/atau alat-alat guna memahami, melakukan intervensi, atau meningkatkan kehidupan sosial manusia. (Steele dan Lutcovich. 1997).

Sosiologi terapan merupakan upaya pemanfaatan ilmu sosiologi untuk mencari solusi atas masalah nyata yang terjadi di masyarakat. Hal itu dilakukan dengan tiga tujuan sekaligus, yaitu memahami kenyataan sosial, mencari solusi atas masalah sosial (intervensi), dan meningkatkan kehidupan sosial. Upaya tersebut dilakukan dengan memanfaatkan teori-teori sosiologi, yaitu teori fungsional struktural, teori konflik sosial, dan teori interaksi simbolik. Ketiga teori tersebut bisa memanfaatakan sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk memecahkan masalah sosial.

Ada kalanya pandangan ketiga teori tersebut dianggap kurang mencukupi atau kurang sesuai untuk memahami masalah dan mencari solusinya. Jika terjadi demikian maka perlu menyusun teori tersendiri. Adapun yang dimaksudkan dengan menyusun teori disini sesungguhnya lebih merupakan upaya mencari penjelasan rasional mengenai masalah konkret yang sedang dihadapi.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Mungkinkah Sebuah Ilmu Pengetahuan Bersifat Subjektif"

> KOMENTAR SPAM & LINK AKTIF TIDAK AKAN DITAMPILKAN

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel